317 views

Saatnya Diversifikasi Pangan untuk Nutrisi 1000 Hari Pertama Kehidupan

Kabar Smart – Ketahanan pangan merupakan hal yang paling penting di masa pandemi sekarang ini. Agar masyarakat mendapatkan kecukupan nutrisi khususnya di 1000 hari pertama kehidupan, pangan tidak hanya dikonsumsi untuk mengenyangkan saja tetapi perlu adanya kandungan gizi yang kompleks yang bermanfaat pada perkembangan otak dan fisik anak.


Ketidakberhasilan pemberian nutrisi pada 1000 hari pertama kehidupan bisa berdampak pada kesehatan fisik dan mental seorang anak. Hal ini tentu berpengaruh pada perkembangan anak baik fisik maupun kemampuan berpikirnya.


Dilansir dari Suara.com, menurut Prof. Dr. Ir. Bustanul Arifin, MS., Guru Besar Universitas Lampung & Tim Pakar IRN dalam acara Webinar Indofood (21/10/2020), pangan yang rawan ada di 1000 hari pertama kehidupan karena hal ini berhubungan dengan pembentukan otak manusia dan gizi. Pangan yang dikonsumsi juga perlu diperhatikan dan tidak asal mengeyangkan. Ia juga menambahkan untuk tidak menyepelekan di 1000 hari kelahiran pertama, karena anak adalah konsekuensinya.


Tentunya, dalam pemberian nutrisi yang cukup perlu adanya diversifikasi pangan atau keaneragaman jenis pangan yang kita konsumsi. Misalnya untuk sumber karbohidrat tidak hanya diperoleh dari nasi sehingga tidak adanya efek ketergantungan pada beras. Sumber karbohidrat bisa diperoleh dari jagung, kentang, dan gandum.


Prof Arifin (sapanya) juga menambahkan bahwa sumber karbohidrat yang kita konsumsi tidak hanya diperoleh dari beras tetapi penting untuk mencari yang kompleks dan rendah indeks glikemik seperti ubi jalar, ubi kayu, kentang, dan jika memungkinkan berasal dari tanah lokal.

Secara tidak langsung hal tersebut sejalan dengan program diversifikasi Kementrian Pertanian yang mengupayakan membuat sumber makanan utama yang dikonsumsi lebih bervariasi, di mana sumber karbohidrat tidak hanya berasal dari sumber daya lokal yang dihasilkan di daerah tersebut.


Berdasarkan prediksi Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah konsumsi beras di Indonesia masih sangat tinggi. Hal ini dikarenakan masih banyak masyarakat Indonesia yang mengandalkan beras sebagai sumber makanan pokoknya. (DM)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *