1.755 views

Indonesia Butuh Pemimpin Sebagai Permadani Bangsa

Oleh : Muhammad Yasin (Founder Smartschool Makassar)

Indonesia adalah bangsa besar yang memiliki keanekaragaman suku dan budaya. Ribuan pulau terhampar dari Sabang sampai Merauke, memiliki ratusan bahasa, bermacam pula agama serta kepercayaan. Kebhinekaan ini menjadikan Indonesia memiliki keunikan tersendiri dibandingkan negara lainnya.


Dalam sejarah peradaban bangsa Indonesia sifat religius dan semangat kegotong royongan menjadi ciri khas masyarakatnya. Hal ini yang membuat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang sangat toleran, menerima segala macam perbedaan serta mampu menanggalkan rasa keegoan golongan demi tercapainya persatuan.


Menurut Anis Matta dalam bukunya yang berjudul gelombang ketiga Indonesia, bahwa pembentukan negara Indonesia membaginya dalam tiga tahapan. Pertama, kesadaran nasionalisme menjadi sebuah bangsa. Selama 350 tahun bangsa ini dijajah, bukannya tidak melawan akan tetapi perlawanan yang mereka lakukan masih bersifat kedaerahan, kelompok dan etnis. Banyak perlawanan yang dipimpin para raja dan tokoh agama ditiap daerah namun sayang tidak dapat memberikan efek berarti bagi kemerdekaan.


Di awal abad 19 mulailah ada kesadaran kolektif akan pentingnya persatuan, hal ini ditandai dengan lahirnya gerakan kepemudaan Budi Utomo. Kemudian berlanjut hingga terjadinya sumpah pemuda pada tahun 1928 dimana seluruh perwakilan dari jong Celebes, jong java, jong Papua dan lainnya menyatakan tekadnya untuk bersatu. Puncak keberhasilan di gelombang pertama ini adalah dengan resmi berdirinya Indonesia menjadi sebuah negara yang diakui dunia pada tahun 1945.


Tahapan kedua, menjadi negara dan bangsa yang kokoh dan modern. Setelah memproklamirkan kemerdekaan tahun 1945 hingga tumbangnya rezim orde baru tahun 1998 bangsa Indonesia dalam kurun waktu tersebut sedang mencari pola, sistem yang tepat agar dapat menjadi sebuah negara maju dan modern.

Di era ini banyak kejadian-kejadian yang cukup menjadi pelajaran bagi sebuah bangsa dan negara yang baru lahir, diantaranya pergolakan pada rezim orde lama yang digambarkan sebagai; memiliki kebebasan namun tidak ada kesejahteraan, di periode ini pula munculnya G 30 S PKI. Dialektika antara agama dan negara sangat kental pada orde ini, yang membuat pergolakan perpecahan dan pemberontakan terjadi silih berganti. Sehingga Sukarno sebagai pemimpin Indonesia saat itu berupaya menggabungkan antara Nasional Agamis dan Komunis yang lebih dikenal sebagai NASAKOM, hal ini dilakukan agar menyatukan semua idiologi anak bangsa.


Setelah berakhirnya rezim orde lama, bangsa Indonesia dipimpin Suharto (orde baru). Di masa ini adalah priode sebagai antitesa dari orde lama, dimana tidak ada kebebasan akan tetapi kesejahteraan ada. Kekuasan Suharto berahir pada 1998, masuk era reformasi mengakhiri kekuasaan orde baru tepat 32 tahun berkuasa memimpin Indonesia.


Dasar- dasar negara dan falsafah kehidupan berbangsa dan bernegara, diletakkan pada priode ini agar Indonesia menjadi bangsa yang kokoh, maju dan modern. Seperti Pancasila, Undang-undang Dasar dan peraturan lainnya.


Setelah dua tahapan tersebut, saatnya Indonesia memasuki tahapan ketiga pasca reformasi. Pada tahapan gelombang ketiga sekarang, harusnya Indonesia dapat berkontribusi lebih besar pada masyarakat global. Setelah masa reformasi tahun 1998 jika dilihat secara ekonomi, militer dan tekhnologi, pencapaian yang diperoleh bangsa Indonesia belum maksimal sesuai yang diharapkan.

Ada paradok yang terjadi ditengah kehidupan berbangsa kita; bahwa langit kita terlalu tinggi, namun sayang kita terbang terlalu rendah. Pencapaian yang diperoleh Indonesia belum maksimal padahal kita memiliki potensi sumber daya yang luar biasa besarnya.

Untuk menjadi negara maju dan kuat, kita membutuhkan lompatan yang lebih besar.
Perbedaan dan perpecahan akibat politik pembelahan antar golongan telah kita lewati bersama. Dan bangsa ini sudah cukup dewasa dalam menyikapi keberagaman. Karena semua kebhinekaan kita telah melebur dalam satu ikatan bangsa Indonesia dan Pancasila sebagai falsafah dasar bernegara sudah final.


Sehingga pembelahan ditengah masyarakat harusnya tidak perlu terjadi. Paska reformasi pembelahan diantara anak bangsa bukannya berkurang malah sudah sangat menghawatirkan. Adanya istilah “saya paling pancasilais”, cebong, kampret dan kadrun, dimana kaum minoritas dan mayoritas selalu dibenturkan. Belum lagi kita masih disibukan dengan isu seolah-olah agama dan negara tidak bisa disatukan, padahal hal seperti ini telah selesai pada gelombang pertama dan kedua.


Kegaduhan nasional dengan adanya politik pecah belah dalam dua dekade paska reformasi, itu tidak lain karena adanya kekosongan narasi sebagai bangsa yang besar.

Para pemimpin cenderung terjebak pada politik oligarki dan dinasti. Padahal di era sekarang yang dibutuhkan bangsa Indonesia adalah ide dan gagasan baru untuk menjadi bangsa yang besar.


Tujuan bernegara dan peta jalan untuk menjadi bangsa besar tidak dimiliki oleh para pemimpin kita. Akibatnya terjadi krisis narasi dan krisis kepemimpinan saat ini melanda bangsa yang berpenduduk dua ratus tujuh puluh juta jiwa lebih.


Perubahan politik global ditambah bonus demografi yang kita miliki serta lahirnya generasi baru yang berpengetahuan, sebenarnya ini sangat menguntungkan. Namun jika para pemimpin bangsa kita tidak mengerti cara mengelolanya sudah dipastikan bangsa yang besar ini akan jalan di tempat bahkan bisa saja malah mundur ke belakang.


Bangsa Indonesia harus memiliki narasi dan ide baru untuk membawa Indonesia menjadi kekuatan baru dunia. Perubahan sosial dalam sejarah peradaban manusia selalu dimulai dari ide atau gagasan, setelah itu baru manusianya sebagai aktor penggerak.


Dimasa sekarang dan yang akan datang, Indonesia membutuhkan seorang pemimpin yang mampu menjadi permadani bagi bangsanya sendiri. Dimana semua anak bangsa dapat duduk bersama, sama rata menikmati keindahan berbangsa dan bernegara yang berdaulat.


Pemimpin Indonesia yang mengerti tentang sejarah bangsanya, faham akan keberagaman yang dimiliki dan mengetahui peta arah perjalanan menjadi bangsa besar. Sehingga mampu mengelorakan dan meng-indonesiakan seluruh potensi yang dimiliki anak negeri dari Sabang hingga Merauke.


Kita rindu akan kepemimpinan para pendahulu dan pahlawan bangsa ini. Jika kita melihat dan mengkaji keberhasilan para pemimpin dunia, setidaknya mereka memiliki sifat kepemimpinan yang kuat.


Seorang pemimpin adalah para pemikul beban bukan sekedar pemberi beban. Indonesia membutuhkan pemimpin berkarakter pemikul beban. Sifat dari pemimpin pemikul beban, diantaranya :
Berpengetahuan
Seorang pemimpin harus memiliki ilmu pengetahuan, dengan ilmu dia mampu membaca dan menganalisa suatu masalah sehingga dapat memutuskan dengan keputusan yang tepat.

Tanggung jawab
Setiap ucapan dan tindakan yang dilakukan pemimpin akan dicontoh. Sehingga seorang pemimpin harus memiliki rasa tanggung jawab dengan apa yang telah dia lakukan dan putuskan. Mengambil tanggung jawab penuh atas perbuatannya dan prilaku rakyat yang dipimpinnya.

Keberanian
Sifat berani penting dimiliki oleh seorang pemimpin, keberanian adalah modal utama dalam perubahan. Sebuah Innovasi tidak akan ada tanpa keberanian. Keberanian ada dua sisi, keberanian kognitif yaitu keberanian dalam ekplorasi dan kebaranian sosial yaitu pembelaan pada suatu nilai yang benar.

Kedermawanan
Dermawan adalah sifat para nabi, salah satu sifat yang harus dimiliki seorang pemimpin. Keinginan berbagi dan berkolaborasi para pemimpin terhadap apa yang dia miliki sangat dinantikan. Kedermawanan secara psikologi diberikan dalam bentuk kasih sayang dan kedermawanan secara sosial adalah faktor pemersatu.

Sabar
Sifat yang harus dimiliki seorang pemimpin bangsa ini adalah sabar. Keberhasilan tidak datang ujug-ujug namun berproses. Menikmati proses perjalanan dengan memaksimalkan kemampuan yang dimiliki akan memberikan ketenangan. Keberhasilan ada caranya dan kegagalan itu ada sebab-sebabnya.

Indonesia butuh pemimpin yang bisa menjadi permadani bagi bangsanya sendiri dan sudah tentu harus memiliki karakter pemimpin pemikul beban. Manusia dilahirkan bukan sekedar hidup, akan tetapi menjadi perwakilan Tuhan di muka bumi untuk membawa nilai-nilai ketuhanan agar dapat memberikan kemakmuran bagi umat lainnya. Itulah beban kita, maka jadilah generasi pemimpin pemikul beban. (ysn)*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *